Saat dinginnya malam mulai menusuk karena pergantian yang terjadi disaat menjelang subuh hari, suara kodok yang terdengar semakin riuh pun mulai berkurang. Rintik hujan, seakan ingin menambahkan lagi rasa nyeri tulang ini dikarenakan tersengat sensasi dingin tambahan dari lantai tempat saat ini berbaring.

Batuk yang begitu nyaring terdengar lagi dari arah dipan dimana sang Ibu serta anaknya yang kecil berusia 15 bulanan sedang tertidur nyaman. Sang anak, yang nampak mulai mengurus tiba-tiba terduduk spontan, tangispun terdengar memecah sunyi. Bunyi kodok, entah merupakan sebuah kebetulan atau alam yang ingin ikut bersuara ditengah keprihatinan, terdengar pula menyahuti. Riuh rendahlah kini hari yang seharusnya bisa dilalui dengan nyaman. Sudah ke tiga kalinya malam itu, sang Anak terbangun, membangunkan ibunya, dan membangunkan sang Bapak yang sedang tertidur disamping dipan, diatas lantai putih dari tegel murahan yang dingin.

Bapak pun sigap duduk, sang Ibu dengan sabar memeluk sang Anak. Tapi dalam hati sang Bapak seperti tiada berdaya, disaat yang sama, Ibu mencoba memeluk dengan pelan, menaruh tubuh si kecil dengan penuh kasih sayang di rangkulannya, memberikan kontak langsung dari dadanya yang tak tertutup apa-apa langsung kepada si kecil, mencoba melakukan upaya agar panas dari tubuh sang Ibu bisa menstabilkan perasaan si kecil, sang Anak yang sedang sakit …

terus .. hingga si anak tertidur, terus .. hingga pagi menjelang …

Sang Bapak, sang Ibu, sang Anak …

Mencoba lagi peruntungan dikeesokan harinya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: