Aku Pun Tidak Ingin Begini

Usiaku sekarang kurang lebih 26 tahun dengan 1 anak, seorang gadis cantik yang selalu kupanggil angel karena bagiku dia memang seorang malaikat kecil yang turun dari Surga, satu-satunya penghibur didalam kesusahanku yang demikian panjangnya.

Tidak lama terlintas dalam ingatan saat aku pertama kali disumpah janji didepan Gereja di kampung halamanku, diantara tatapan haru dan bangga sekaligus iri para tetangga dan teman-teman serta keluarga di kampungku karena berhasil mendapatkan seorang lelaki yang demikian membanggakannya. Tampan, mapan dan sepatutnya dipuja oleh banyak wanita, walau untuk bisa langsung hidup bersama kami berdua harus terlebih dahulu berpisah tempat tinggal selama kurang lebih 3 tahun karena kewajiban di tempat bekerja suamiku.

Tanpa kusadari mataku kini sembab, bulir-bulir airmata pun turun diantara sela-sela sudut mataku tanpa bisa dihalangi lagi.

Aku sampai sekarang tidak bisa mengingatnya apakah ini menyakitkan atau tidak, saat mengingat begitu bahagianya diriku karena telah mendapatkan status PNS dari salah satu kantor milik pemerintah provinsi di Kalimantan Tengah, dan suamiku pada saat bersamaan mendapatkan SK pemindahannya menjadi satu tempat denganku. Semuanya serasa demikian membahagiakan, serasa akulah seorang wanita, istri yang paling bahagia di dunia; dan sekaligus ibu karena malaikat kecilku tumbuh menjadi balita yang begitu cantik.

Hingga hari pertama di bulan ketiga dari tahun pertama kami mulai hidup bersama, ternyata aku baru mengetahui bahwa suamiku adalah seorang lelaki yang ringan tangan. Tak terhitung mulai hari itu berbagai pukulan yang aku dapatkan, entah di mata, pipi hingga tanganku yang selalu mendapatkan aksi kekerasan dari tangan sampai menggunakan sabuk celananya. Tapi demi keluarga dan anakku, serta ungkapan menyesalnya yang selalu mengaku khilaf setelah puas menyiksaku, telah membutakan pikiran dan hatiku.

Aku tidak ingat lagi memang kapan tepatnya, saat aku mulai menyimpan kemarahan yang menjadi-jadi dan memutuskan untuk kembali membuka hatiku. Seorang teman kantorku, sahabat yang biasanya bersama aku dan teman-teman yang lain berbicara ngolor ngidul tentang apa saja, mulai kujadikan sebagai tempat curhatku. Bersama dia aku kemudian semakin merasakan kedamaian, kembali merasakan bahwa aku masih memiliki harapan untuk sebuah kebahagiaan, walau sesaat, paling tidak ini bisa kulakukan sebagai sebuah cara pelarian dari kepedihan dalam hidupku. Lalu entah siapa yang memulai, perbuatan terlarang itupun kami berdua lakukan di kantorku.

Hari ini, saat hujan mulai turun di kota tetangga tempat kerjaku dahulu, aku duduk di depan sebuah toko kecil yang aku dapatkan dari belas kasih teman karibku, tempat dimana aku bisa memulai segalanya dari titik nol. Pemecatan dari kantor ku karena peristiwa memalukan di kantor saat aku dipergoki sedang bercinta dengan temanku tersebut memang telah mencoreng muka seluruh keluargaku. Tapi, terus terang aku sendiri sebenarnya masih tidak mengerti apakah hal ini adalah musibah? Atau justru ini adalah sebuah berkat untuk kehidupanku!

Tapi yang kutahu, aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi padaku, apalagi untuk malaikat kecilku.

* bisaku press *

17 responses to this post.

  1. Sebuah berkat? Bagaimana mungkin menjadi sebuah berkat bagi kehidupan?

    bisaku:
    “Inilah ironi dalam kehidupan … Tergantung dari sudut mana kita melihat hal tersebut …”

    Balas

  2. Apa memang hidup harus seironi ini ya?

    bisaku:
    “Kalau kita memandang sesuatu dari sakitnya saja … habislah kehidupan itu dimakan keputusasaan …”

    Balas

  3. Posted by aryf on November 7, 2008 at 10:11 pm

    badai pasti berlalu…menunggu badai berikutnya.

    bisaku:
    “Selalu berdoa dan tidak berhenti berharap …”

    Balas

  4. sebuah proses pembelajaran mungkin?

    bisaku:
    “Memang demikian kah seharusnya …?? entahlah sobat … misteri TUHAN atau misteri setan ???”

    Balas

  5. Posted by yessymuchtar on November 8, 2008 at 12:03 pm

    miris ya mas…..disaat dia tidak mendapatkan kebahagiaan di pernikahannya..dia mencarinya di laur dengan cara yang salah..

    pelajaran untuk kita semua..untuk selalu berkomunikasi kepada pasangan..apapun itu

    bisaku:
    “Untuk belajar berkomunikasi memang salah satu ujian yang paling susah dari semua hal di dalam suatu hubungan … seperti lelaki yang seperti wafer dan perempuan yang seperti bakmi …”

    Balas

  6. bisaku! karena aku bisa! hehehe..

    bisaku:
    “Bisa apa Ga🙂 ..”

    Balas

  7. Saya cuma terpana dengan dua frasa ini >> bisaku press😯
    saya bole kirim artikel ataw feature ndak?
    .
    *ditendang sama si empu blog sampai ke emperan*

    bisaku:
    “Itu cuma keinginan tersembunyi😉

    moga kesampaian …”

    Balas

  8. hmmm….merdeka !
    atau…
    merdeka ?:mrgreen:

    bisaku:
    “Tergantung dari sudut pandang mana🙂 …”

    Balas

  9. benar mungkin abang dalam siraman pembelajaran dariNya.
    salam hangat selalu

    bisaku:
    “Tidak ada yang pasti dan murni di dunia ini …”

    Balas

  10. Hhmmm… sepertinya untuk hal KDRT di Indonesia sangat sulit untuk ditanggulangi. Jika dilaporkan kepolisi paling hasilnya disuruh balik lagi dan bahkan mereka akan bekata tidak bisa ikut camput karena urusan RT atau pribadi. Seandainya perlindungan terhadap wanita lebih maju dan terjamin hal itu tidak akan terjadi. thanks

    bisaku:
    “ditambah lagi dengan patrilineal dan juga cara pandang yang salah terhadap arti dari kasih sayang itu sendiri … “

    Balas

  11. ya…kadang keputusan buta dan brutal diambil wanita untuk mendapatkan kebahagaian sementara tanpa berpikir, itu adalah duka dan salah yang tertunda.

    Kalau aku..lebih baik…hidup sendiri…ataupun cerai baik-baik baru menikah lagi daripada dibilang selingkuh…apapun alasan selingkuh adalah salah!

    Sobat aku ada Award buatmu…diambil ya…karena blogmu Oke!😀

    bisaku:
    “Thanks banget yahoooo dapat award😉 … lagi menyusun sistem sekarang …”

    Balas

  12. aduh…
    jadi pngen cepet nikah di gereja ini,
    lho he….

    bisaku:
    ”🙂 “

    Balas

  13. huaaaaaaaaa…. kayak gak ada tempat lagi ajeeee… berkat yang memalukan..

    bisaku:
    ” tergantung dari mana kita memandang😉 … “

    Balas

  14. Berkat?…semoga menjadi berkat untuk berubah.🙂

    bisaku:
    “Harusnya🙂 … “

    Balas

  15. Posted by Elys Welt on November 16, 2008 at 5:06 am

    speechless

    bisaku:
    “Itulah hidup …”

    Balas

  16. kok long time no see ya ?
    apa kabar sobat ?

    bisaku:
    “Lagi dalam keadaan terdesak pekerjaan untuk membeli rumah sobat🙂 …”

    Balas

  17. masa dibilang berkat?
    kan malu2iiiiin..😦

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: