Archive for September, 2008

Mengapa Selingkuh

Ya, tipe tulisan yang biasa-biasa saja ~ memangnya selama ini tulisanku ga biasa :mrgreen: ~

Tertarik saat ada seorang teman yang menceritakan penderitaan karena adanya perselingkuhan dalam hubungannya. Parahnya si kekasih yang brengsek karena ga punya mata yang baik karena melentarkan temanku yang cantik ini bilang kalau dia melakukannya karena kurang mendapat perhatian dari temanku.

Ah, kasian temanku yang cantik ini …

* sambil merangkul mencoba memberi semangat *

Maka saya memutuskan untuk menulis sebelum mengajar di hari yang terakhir sebelum pulang kampung di besok hari, mengeluarkan unek-unek biar gak mengganggu nantinya …

Terspesial untuk si pengecut itu … ya ANDA yang sedang ….

Liburan Selama 1 Minggu

Ya, saya berlibur ke Ampah, salah satu ibu kota kecamatan di Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Walau disana sudah ada jaringan Internet, menggunakan GPRS adalah sesuatu yang akan membuat saya gak bisa balik lagi ke Palangka Raya.

Jadi buat siswa sekolahku, berbahagialah kalian aku gak masuk ngajar > contoh yang buruk 😦 …

Untuk mahasiswaku yang akan melakukan konsultasi tugas RPL, tugas di undur sampai hari sabtu minggu depan, tapi jangan pernah melupakan bahwa tugas jangan sampai terlambat. Ingat tentang laporan mengenai studi kelayakan awal!

Untuk mahasiswa di Pengenalan Internet, silahkan persiapkan tugas presentasinya minggu depan yang harus dipresentasikan sebagai bagian dari tugas utama untuk nilai Anda.

Untuk teman-teman kerja ku … Met liburan aja deh 🙂

Untuk teman-teman bloggerman dan bloggerwati yang merayakan Idul Fitri, met berlebaran dan hati-hati di jalan kalo mo mudik …

Nah, untuk para penggemarku *HALAH*

Moga Natal nanti bisa pulang lagi 😦

Buat ayank ku, moga November pas sembahyang keluarga di rumah, kau bisa ikut sama aku 🙂 …

Ketidakberdayaan Nurani-Ku??

Kali kesekian aku beranjak dari dudukku, akupun kemudian memandang kepada barisan pepohonan yang berbaris rapi di pinggir pantai yang dibatasi oleh putih agak kehitaman warna pasirnya, yang beradu kemudian dengan air laut yang perlahan semakin berwarna biru hingga ke baris cakrawala yang sepertinya, apabila kita jelajahi jauh ke depan maka kita kan bertemu dengan atap langit yang kini bertoreh berwarna merah agak keputihan.

Aih … teriakku dalam hati. Kapan lagi aku bisa menikmati saat indah seperti ini? Saat mataku berpaling ke arah dirimu yang masih tergolek lemah di atas kasur tebal dengan selimut putih tipis yang membalut indahnya tubuhmu yang telah kunikmati tadi malam. Sekejap teriakan dan hembusan nafasmu di telingaku, usapan tanganmu dan hangatnya peluhmu kembali kurasakan di antara pori-pori leherku, membuat hatiku kembali memanas dan jantungku berdegup sedemikian kencangnya.

Tapi saat ini aku tahu kau tidak berdaya, tepatnya akupun demikian.

Kita telah menantang sedemikian kuat pemikiran dunia tentang percintaan, tapi dengan salah kita tantang setan dan iblis serta dunia, dengan angkuh kita katakan bahwa percintaan ini tiada kan menyakitkan. Sekejab kita berkata-kata mengatakan kepada dunia bahwa kita adalah pasangan paling mulia, tubuh kita adalah yang tersuci, hati kita adalah yang paling putih, mata kita tak kan terpasung oleh pandangan sekejab dari hamparan mutiara putih dengan bebuluan halus yang menggetarkan. Kita seakan berkata kepada TUHAN sebagai insan paling mulia, anakNYA yang paling bisa di percaya, sebuah hasil tulisan tentang indahnya cinta yang suci yang bertolak belakang dari tabir ketidakberdayaan seorang Raja DAUD akan godaan isteri sang Panglima…

Tapi tidak … Baru sepersekian menit ku peluk dirimu ….

Memori, Tuhan & Engkau

Dari sebuah kutipan tanpa nama ….

Dari perenungan di sela-sela kebimbangan …

Dari kerinduan, yang tak tergantikan!

Disaat Aku masih berpikir untuk menunggumu,

dari antara sela-sela bingkai pualam jendela rumahku,

dari balik kebimbangan yang menghantuiku.

Sungguh, memori indah itu takkan hilang …

selamanya, selama ku masih bisa mengingatmu …


Tuhan memberikan kita memori, sehingga kita bisa mengingat indahnya bunga Mawar di musim semi yang hangat pada bulan Desember yang membekukan …

Tentang Toilet Duduk!

Ada pengalaman menarik buat saya disaat baru saja bekerja di kantor yang sekarang ini. Pada saat saya memutuskan untuk masuk ke toilet dan dilanjutkan dengan prosesi keramat untuk menjalankan kewajiban saya tersebut; sekonyong-konyong di saat yang kritis tersebut saya temui salah satu benda yang sejak dulu membuat saya sering; kalau kata anak muda jaman sekarang, “ill fill”.

Benda itu adalah toilet duduk!.

Kalau Anda pikir saya ini sedemikian ndeso nya (kata orang jawa)? Tidak juga, karena di tempat saya bekerja sebelumnya saya sering ~tapi tidak pernah menyukainya~ menggunakan ini. Alasan yang membuat saya merasakan tidak nyaman adalah kenyataan bahwa saya selama ini telah biasa untuk menggunakan toilet konvensional yang digunakan sembari berjongkok. Lalu kalau saya pikir-pikir, kenapa ya kok orang-orang sering bergaya menggunakan toilet duduk? Padahal orang yang menggunakan ini kebanyakan berlatar belakang menggunakan toilet konvensional pinggir sungai (maaf buat yang tersinggung).

Selain itu kalau memang menggunakan toilet duduk, ya seharusnya fasilitas yang tersedia juga diperuntukkan untuk penggunaan toilet duduk secara baik dan benar. Maksudnya, kalau pada tempat tersebut menggunakan toilet duduk, jangan lagi disediakan cebok manual! Kaco banget kan, disaat kita sudah mo bersihin diri, masa kita mesti mengambil sikap jongkok lagi diatas tempat dudukan toilet. Ini benar-benar perasaan yang tidak lucu! Bayangkan kalau toilet duduk itu roboh karena tidak kuat untuk menahan berat tubuh kita … Hancur 7 turunan deh :mrgreen:

Tapi inilah yang dinamakan sebuah ketidakberdayaan budaya, paling tidak bagi saya. Ini adalah gambaran bagaimana kita selalu dipaksakan untuk menggunakan sesuatu yang kadang kala tidak sesuai dengan peruntukan dan kebiasaan. Memang, kebiasaan yang tidak baik harus ditinggalkan. Tapi, apakah ini termasuk kebiasaan saya menggunakan toilet pavorit saya, toilet jongkok?! Padahal ada pepatah: “sorga dan neraka bisa Anda temukan di toilet“.

NB: ini merujuk kejadian lumrah dalam hidup Anda. Sorga saat Anda benar-benar kebelet dan menemukan tempat untuk buang hajat 🙂 , neraka kalau sebaliknya :mrgreen:

Pilihan yg Sepertinya Bukan Pilihan

Pilihan

Pilihan

Akhir-akhir ini saya mulai tergelitik lagi dengan fakta tentang Jalan Kehidupan; apakah benar-benar ada hal yang sering disampaikan oleh orang-orang bijak itu sebenarnya?

Lalu Saya temukan paradoks atas tulisan saya yang lain …

Alasan Aku Memilihmu?

“Karena aku tidak bisa mencintai wanita yang lain lagi!” TITIK