Ironi Penjual dan Persewaan Komik!

Akhir-akhir ini, semenjak saya sering merasa kesepian ditengah malam yang sunyi, saya kesamber sama kegilaan nyewa komik seperti teman saya sekost dulu, Martin sia maniak hentai😆 . Kalau mau nyewa saya biasa melakukannya pertiga hari sekali dengan membayar 5000 rupiah lebih untuk sekali pinjam. Cuman pas waktu saya nyewa tadi malam di tempat persewaan yang baru ada sesuatu hal yang menarik yang menurut saya patut diangkat, bahwa si pemilik persewaan tersebut juga ternyata menjual komik.

Aneh?

Mungkin kalau yang memiliki pikiran cepat pastilah cepat tanggap😆 . Karena kalau dipikir-pikir, penjual komik dan penyewa komik seharusnya saling bertarung karena biasanya para penjual buku bakal sewot kalau melihat ada tempat tersedia untuk menyewakan buku yang notabene dia jual.

Permasalahannya kalau kita menyewa buku, maka secara teoritis dan kenyataan yang bisa kita dapatkan adalah: “kita bisa mendapatkan harga yang pasti lebih murah“. Pada kasus saya ini cuman 1000 rupiah per-komik! Bandingkan kalau harus beli seharga 10.000 rupiah atau malahan lebih untuk satu buah komik baru super keren terbitan Gramedia atau MNC😆 .

Oleh karena itulah timbul pemikiran di otak saya yang lemot; kalau terdapat tempat seperti ini – usaha penjualan sekaligus persewaan dalam satu tempat – maka siapa sebenarnya yang diuntungkan dan dirugikan?

Jawaban pertama untuk itu mungkin merujuk pada pihak yang dirugikan. Kalau saya menjawab hal tersebut pastinya si pengarang komik dan publisher dari komik itulah yang dirugikan.

Lalu kalau ditanya siapa yang paling untung? Jawaban paling banyak pastilah konsumen, walaupun kalau dirunut dengan lebih teliti konsumen sebenarnya adalah pihak yang nantinya akan dirugikan. Apa sebab? Karena pada saat menyewa saya sebagai konsumen harus bisa menerima kalau buku yang disewa itu sudah rusak, lusuh dan tidak layak baca. Makanya kalau dapat buku seperti itu dan protes, pihak pemilik pasti bilang : “Minjam? BELI😈 !!!”

Sebenarnya persoalan seperti ini tidak terbatas pada persewaan komik, buku atau majalah. Persoalan ini juga ada pada persewaan CD, VCD atau DVD. Bayangkan, film yang harga bikinnya saja beberapa miliar cuman dibayar sebesar 5.000 rupiah per sekali nonton. Bandingkan dengan biaya untuk menonton di studio 21 yang mencapai 25.000 rupiah – dulu pas masih mahasiswa😆 – sekali nonton.

Oleh karena hal tersebut makanya saya mau bilang ini juga merupakan sebuah ironi. Apabila hal seperti ini dibiarkan apakah industri komik kita bisa maju? Cuman kalau ditanya kepada saya pada saat ini yang lagi tidak punya uang yang cukup buat beli komik baru, maka saya bilang … OK lah untuk sementara👿 …:mrgreen: ….

Tulisan berkaitan:

8 responses to this post.

  1. Eh… padahal saya sering pinjam juga😀
    lha tapi memang susah kalo nyari macam kho ping hoo gitu😀
    untunglah ada persewaan, so ya ga pa pa lah, sementara
    hehehe…

    bisaku:
    “Gila kho ping hoo masih kau embat juga sobat😕

    *Udah umur berapa goop sebenarnya😈 *

    Perasaan nih buku kan udah dari semenjak aku SD kelas 2🙂 “

    Balas

  2. Sebenarnya kecenderungan rental komik juga menjual komik sebenarnya hanya untuk membantu pelanggan rentalnya yang kesulitan (males) mendapatkan komik dengan cara membeli langsung. Klo di rental, dia tinggal mesen komik2 apa aja yang mau dilangganankan, ntar pengelola rental yang mencarikan dan memberikannya kepada pelanggan saat pelanggan datang ke rental. Tentu saja pengelola mendapatkan keuntungan, karena kalo kita bikin rental, biasanya agen akan memberikan diskon khusus buat mereka, karena mereka membeli dalam jumlah yang banyak tiap bulannya.

    *pengalaman yang pernah mengelola rental*

    bisaku:
    “Wah ini yang aku suka, pendapat dari pelaku peristiwa🙂 .
    Cuman kalo dibilang untung buat agen, apa ini juga untung buat si pembuat komik? SOalnya dari sekian banyak jumlah komik yang disewa, nilainya akan melampaui keuntungan yang seharusnya diterima oleh pihak penerbit.
    Tapi susah juga yah, soalnya saya juga senang nyewa dibanding mbeli😥 “

    Balas

  3. Udah umur berapa goop sebenarnya

    Lha saya baru 24 tahun… seumuran dengan buku-buku kho ping hoo😀
    tapi seru koq…

    bisaku:
    “Hehe … aku juga baca kok. Eh sobat, jangan2 kau bilang 24 jalan 26:mrgreen:

    Balas

  4. untung buat pembuat komik pasti tetap ada dong. kalo misalnya komiknya laku tentu saja dia dikontrak lagi buat komik baru. pembuat komik tidak perlu khawatir kalo komiknya tidak terjual, karena dia sudah dibayar sesuai tarif yang diinginkannya dari hasil nego penerbit dengan penjual. kalo ada terbitan ulang, si pembuat komik juga tetap akan mendapatkan royalti. nah…kalo misalnya komik yang tidak dibuat tidak laku, hal ini bisa membuat pembuat komik akan turun popularitasnya di kalangan penerbit. ntar ga ada penerbit yang mau beli komik dia.
    lagian…kita ga usah memikirkan kerugian pembuat komik kok kalo misalnya kita nyewa. soalnya penerbit komik di indonesia banyak yang bajakannya daripada resminya :p . yang resmi juga beli lisensi ke penerbit asli di jepang, bukan ke pengarang komik, tapi tentu atas ijin pembuat komik….

    saya juga awalnya cuma sewa-sewa, lama-lama jadi beli, ujung2nya koleksi, dan akhirnya koleksian disewakan….. hehehehee….
    para penyewa yang tadinya mungkin hanya menyewa, akan mulai membeli.

    bisaku:
    “Jadi ini seperti simbiosis mutualisme.
    Tapi kayaknya kalo aku susah buat beli Pak, soalnya rada lelet kalo nyari yang baru😆
    btw, susah juga kasih koment ke multiply, mesti sign up dulu😦 padahal kita punya hoby yang sama dalam baca komik atau nonton anime😉 “

    Balas

  5. Aku kira orang yang menyewakan sekaligus menjual komik itu memiliki insting bisnis kuat bro. Kalaupun komik yang disewakannya terjual, dia bisa cari penggantinya di toko buku bekas. Atau memang dia mendatkan bahan persewaan memang dalam kondisi bekas. Sehingga ketika ada pinjem 2-3 sudah balik modal.

    bisaku:
    “Karena itulah saya bilang ironi … untung bagi pemilik persewaan & penyewa😉 , rugi buat yang publisher komik …”

    Balas

  6. Posted by indriani on September 23, 2008 at 12:02 pm

    menurut pengalamanku sih, di semarang cukup banyak yang buka persewaan sekaligus jual komik. tujuan utamanya sih sebenarnya lebih ke customer service alias membantu pelanggan. dulu aku juga gitu ko waktu ngelola rental komik, kalo ada yang mo pesen cariin komik jadul juga kadang2 aku coba pesen ke beberapa agen ato nyari di pedagang bekas. untungnya ngga seberapa sih tapi yang penting pelanggan puas n tetep balik lagi. soalnya persaingan bisnis ini lumayan ketat. jadi kalo judul buku ngga komplit n pelayanan ngga memuaskan, udah tinggal tunggu waktu aja untuk gulung tikar. sedihnya kalo ada pelanggan yang nakal udah pesen tapi ga diambil, yah… akhirnya diobral deh dibawah harga beli. rugi sih… tapi daripada rugi lebih besar lagi. atau kalo itu komik yang populer ya… dibuka aja untuk disewakan.

    Balas

  7. Posted by jenggiskan on Februari 3, 2010 at 10:47 am

    Kalau komik tidak boleh disewakan akan kuarng laku. Karena kantong masyarakat kita tipis. Masyarakat kita tentu akan pilih tidak baca daripada harus beli. Maka perlu juga ada perpustakaan yang juga menyediakan komik untuk mengembangkan minat baca dan pengetahuan masyarakat. Agar masyarakat berminat mengunjungi untuk memanfaatkan perpustakaan maka buku termasuk komik harus dipinjamkan secara gratis. Ini suatu kenyataan di masyarakat kita, kalau tidak begitu kapan mau maju.

    Balas

  8. Posted by yan on Juni 29, 2013 at 10:14 am

    Lebih miris lagi jika melihat perkembangan internet gan, daripada beli atau sewa, mending download aja hanya 40Mb/serinya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: