Wahai Blogger, Jangan Kau Debat Imanku

Sebenarnya saya ingin menulis dengan judul yang lebih panjang, “Wahai Blogger, Jangan Perdebatkan Imanku Di Depan Publik“, suatu pemikiran setelah saya kurang lebih satu bulan menulis dan bergaul dengan kaum blogger-(man/wati) yang luar biasa berbakatnya dan akhirnya mendapatkan apa yang ingin saya tulis disini, apa yang ingin saya bagi, dimana tulisan ini sejatinya merupakan kelanjutan dari tulisan saya tentang “Nge-Blog, Idealisme Vs Populer” – sebuah pemikiran tentang bagaimana sejatinya tulisan saya tersebut dalam menjalani kehidupan sebagai salah satu bagian dari komunitas blogger.

bloggerMovement

Ini sebuah tulisan tentang fenomena para blogger yang menulis tentang perdebatan iman diantara iman yang sekarang mereka miliki dengan iman saudaranya yang lain. Karena sebenarnya sampai sejauh ini saya masih belum mengerti tentang apa tujuan mereka menulis sampai sejauh itu, walaupun memang sebagian menulisnya dengan fair, tapi yang harus kita maklumi bahwa blogger juga sebenarnya adalah manifestasi dari pergaulan diantara diri pribadi sebagai manifestasi nyata di dunia dan secara maya melalui sebuah tulisan, yang pada akhirnya mungkin akan terbawa ke dunia nyata.

Oleh sebab itu sungguh menarik untuk melihat fenomena diantara blogger yang melakukan demikian. Karena mungkin saja didalam manifestasi nyatanya dia adalah seorang anak yang demikian tolerannya, namun dibelakang – tergambar dari tulisannya – dia menyimpan sebuah pertanyaan besar tentang imannya sendiri dan orang lain, bahkan – maaf – kebencian yang sangat besar.

Saya memang memahami bahwa dengan menjadi seorang blogger maka kita akan mendapatkan sebuah kebebasan tanpa batas, kecuali tentu saja waktu yang mengikat hidup kita dalam mengakses sumber yang ada di dunia maya. Tapi yang tidak saya pahami adalah keberanian mereka untuk mengungkapkan dan melancarkan sebuah perdebatan yang menurut saya, tidak seharusnya dilakukan dan dilemparkan ke area publik yang notabene sebagian besar dari pengaksesnya pasti menggunakan senjata anonymous, serta tidak jelas apa maunya selain ingin mengungkapkan ketidaksetujuan, makian, cacian, umpatan, persetujuan tanpa memahami isi, atau mungkin hanya ikut-ikutan saja karena mereka seiman.

Padahal dalam pemikiran saya, mengapa mereka tidak pernah coba dengan cara mencari jawaban melalui cara yang sebenarnya lebih elegan?

Salah satu yang saya rekomendasikan adalah dengan melakukan debat tertutup dengan orang-orang yang memang berkompeten dalam hal ini. Diantara orang yang berkompeten tersebut bisa saja para pemuka agama, para akademisi atau pihak lain yang ingin diperbandingkan. Hal ini bertujuan agar pencarian jawaban dari pertanyaan yang diperdebatkan bisa terjawab dengan benar.

Karena bagi saya, orang yang ingin mendebatkan tentang iman orang lain itu adalah seseorang yang seharusnya dipertanyakan, apakah memang ia ingin meyakinkan orang lain atau hal tersebut dilakukannya karena ingin meyakinkan dirinya sendiri. Selain itu, debat yang dilakukan secara terbuka melalui media seperti blog ini tidak akan mencapai kesimpulan yang berarti, karena apa yang tercapai hanyalah argumen-argumen yang pada akhirnya menggunakan kata kunci “POKOKNYA SAYA YANG BENAR“. Akibatnya perdebatan pada blog tersebut tak lebih daripada kegiatan main air, tidak akan ada habisnya sampai air yang dimainkan itu habis.

Oleh karena itu, saya telah berpikir pada blog saya untuk tidak menulis hal yang demikian, mungkinkah Anda sepaham?

Note:

  • blogger yang memiliki pemikiran yang sama bisa menempelkan gambar diatas ke blog Anda tanpa kewajiban memberikan link ke tulisan ini.
  • Bila Anda bisa membuat banner kecil yang lebih bagus saya harapkan Anda bisa menghubungi saya dan akan saya tampilkan lengkap dengan identitas Anda, melalui email aan43_At_yahoo_dot_com
  • Bagi yang tidak setuju jangan marah, ini adalah pemikiran saya sendiri tentang bagaimana seharusnya saya menyingkapi tulisan saya yang dibaca oleh publik

19 responses to this post.

  1. blognya keren…
    sayang saya sudah tidak masang banner lagi😦
    tapi saya suka idenya…

    bisaku:
    “Thanks bro, seperti kata Daeng Limpo, pujian kembali kepada pemiliknya.
    Gak masang juga gapapa😉
    Toh ini adalah salah satu cara dalam menyampaikan pemikiran tentang gejala sosial yg ada, termasuk yang terjadi pada kaum blogger.
    Semoga bermanfaat bagi kita sekalian🙂 “

    Balas

  2. eh maksudnya bannernya keren
    *hayah, salah*:mrgreen:

    bisaku:
    ” *Ku kutuk kau jadi pangeran kodok biar dapat putri cantik:mrgreen: * “

    Balas

  3. ehm , mudah – mudahan iman masih ada dalam hati , jadi saya tak berani mengusik iman orang lain , sementara keimanan saya sendiri sepatutnya dipertanyakan
    alhamdullilah diingatkan kembali dalam memegang keyakinan dan iman
    saya mau mengundang buat baca tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2008/01/21/palestina-tanah-sejuta-doa/

    bisaku:
    “Tulisan yang mendamaikan Pak, semoga kita bisa diberkati🙂 dengan tulisan Bapak “

    Balas

  4. Aku setuju banget dengan idenya. Sejak pertama kali ngeblog aku belum pernah menulis tentang keimanan seseorang. Apalagi berdebat untuk itu. Menurutku bila seseorang memperdebatkan keimanan, saat itu juga iman orang itu rapuh. Ia lebih memilih berdebat daripada damai. Maaf rada OOT komennya.

    bisaku:
    “Walaupun dia memilih untuk mendebat, seharusnya dia memilih dengan orang yang memang bisa menjawabnya, bukan di tempat umum yang bisa posting tanpa diketahui identitasnya.
    Terima kasih Mba atas persetujuannya🙂 …”

    Balas

  5. Jangan mendebat iman siapa-siapa
    Jangan berdebat dengan siapa-siap
    Kalau mau berdebat mari dikamar tertutup
    Hanya Aku dan Kamu
    Kalau menang tidak ada yang tahu
    Kalau kalah tidak ada yang malu
    kalau aku tak tahu
    jangan kau anggap aku kafir
    kalau aku tahu jangan anggap aku Tuhan
    karena aku dan kamu
    sama saja di depan Tuhan
    sama-sama manusia yang sedang mencari…
    Tuhan

    bisaku:
    “Salut Daeng … “

    Balas

  6. Kalo buat saya, boleh dong merasa benar dengan pilihan iman. Dengan pilihan apapun seperti politik, organisasi, dan lainnya boleh merasa benar. Yang lain tidak sama benar atau salah sama sekali.
    Lucu, kalo milih sesuatu yang tidak benar. Menganggap orang lain kafir, juga boleh kalo memang itu yang diyakini benar.
    Tapi menghargai keyakinan dan pilihan orang lain menurut saya lebih baik. Membuat dunia lebih damai. Tidak ada yang salah dengan perbedaan karena yang membuat peperangan hanyalah ketidakmampuan untuk menghargai pilihan orang lain. Karena pingin memaksa orang lain mengikuti pilihannya, jadilah pertentangan.
    Ups, maaf malah jadi tulisan tersendiri hehehe.

    bisaku:
    “Merasa benar dengan pilihan iman itu memang perlu, bahkan semuanya memang seperti itu kan?
    Tapi yang saya ingin soroti adalah bagaimana pilihan itu dieskpresikan di dunia internet yang kacau balau ini. Nah apa artinya pilihan ekspresi tersebut kalau yang diperlihatkan kemudian adalah perdebatan tanpa arti seperti debat kusir dan tanpa diikuti kedewasaan dalam menyampaikan pendapatnya? Bukannya lucu Pak?
    Saya setuju dengan pesan Anda bahwa menghargai keyakinan dan pilihan orang lain adalah lebih baik, itulah point lain dari kampanye tulisan ini🙂
    Tulisan sendiri? Gapapa kok Pak, malah bagus😉 “

    Balas

  7. sepakat banget mas toni. keimanan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk diyakini dalam hati dan dilaksanakan lewat amalan2 sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. ketika keimanan yang bersifat personal diperdebatkan, maka makna hak asasi yang jelas-jelas menjadi hak setiap orang telah tereduksi oleh pamrih-pamrih sempit yang ingin memaksakan keyakinan yang dianutnya kepada pihak lain.

    bisaku:
    “Koment yang dalam pak, terima kasih🙂
    Andai banyak orang berpikiran seperti itu …
    Tapi bukannya saya tidak setuju dengan adanya perdebatan tentang iman, tapi hendaknya hal tersebut dilakukan dengan cara yang lebih elegan, lebih terhormat dan lebih menunjukkan kedewasaan iman kita.
    Salut Pak🙂 “

    Balas

  8. terima kasih sudah silaturahmi ke blog saya
    sering – sering silaturahmi ya pak

    bisaku:
    “oke deh😉 “

    Balas

  9. Saya setuju, terlebih lagi dengan tidak mendebat antara theist dan atheist. Atheist mendebat iman theist dan theist mendebat keyakinan atheist.

    …termasuk saya yang agnostik ini.🙄

    bisaku:
    “Waduh-waduh, ungkapan kata-kata Anda terlalu jauh buat saya yang buta tentang isitilah advance seperti itu😮
    Tapi bagi saya yang berpikiran simple😉 , pendebatan yang tanpa aturan dan hanya sekedar menampilkan pertidaksetujuan atas keyakinan orang lain ditempat yang bahkan caci maki serta penuh ungkapan kosong bisa ditampilkan, sebenarnya telah menghambarkan dan menghilangkan maksud dan tujuan orang tersebut sendiri, alih-alih merasa penasaran atau ingin tahu jawabannya, saya malah merasa tidak simpatik.
    Padahal ada cara lain yang lebih elegan untuk melakukan hal yang seperti itu … “

    Balas

  10. Wah, kalo saya ndak nulis tentang kepercayaan (iman?) maka saya ndak tahu mau nulis apa lagi.😀

    bisaku:
    ” hehe … kalo sejauh membahas iman kita itu lumrah dan biasa. Tapi kalo sudah mengangkat tentang perbandingan dan pertentangan dengan iman orang lain? Nah itu patut untuk dipertanyakan dengan diri sendiri, benarkah cara yang sudah kita lakukan tersebut😉 “

    Balas

  11. “debat yang dilakukan secara terbuka melalui media seperti blog ini tidak akan mencapai kesimpulan yang berarti”

    Lho, bukannya emang “kesimpulan” (yang pokoknya paling benar itu) bahkan sudah diambil sebelum perdebatannya dimulai?

    bannerbya Ok saya pasang deh.

    bisaku:
    “Nah gitu deh hasilnya, gak bakal ada ujungnya😉
    Makasih atas kesediannya … “

    Balas

  12. Maksudnya ‘tidak didebat’ itu kira-kira seperti apa?😕

    Apakah sentimen ini akan mengekang kebebasan seorang blogger untuk melakukan kritisisme di blognya masing-masing, atau cuma sebatas bertoleransi saja?😛

    bisaku:
    “Coba deh dilihat berbagai macam isi blog yang penuh dengan pertanyaan dan pertentangan yang memperdebatkan iman yang dia imani sekarang dengan orang lain. Padahal kalau kita lihat hasil dari diskusi dibawahnya, bahkan jauh dari harapan untuk mendapatkan sebuah jawaban. Jauh sekali …

    Saya tidak mengatakan ini sebuah sentiman🙂 tapi ini merupakan gerakan moral dari saya dan sebuah pernyataan dari saya untuk tulisan saya sebagai seorang blogger yang tinggal di Indonesia dengan berbagai macam perilaku dan keimanan yang luar biasa beragam, dan kalau yang lain setuju atau tidak, itu merupakan hak mereka – apa ini juga merupakan sentimen😕 ah …😆

    Mungkin bisa dikatakan sebatas bertoleransi? Sebenarnya dari dulu kita sudah memiliki pemikiran demikian kan? Tentang toleransi dan hal2 tetek bengek semacam teori yang didapatkan pada waktu di kelas PPKN or Agama. Cuma sekarang saya berpikir untuk sedikit melakukannya melalui sebuah penegasan, yang dimulai dari saya – siapa tahu ada blogger lain yang mengikuti🙂 !
    Kritis itu boleh, tapi kritis tanpa ada pertanggung-jawabawan serta tata cara yang elegan, pemikiran yang kritis tidak akan menghasilkan apa-apa. Apalagi ini terkait masalah yang sangat sensitif – masalah iman seseorang🙂 “

    Balas

  13. Kalau menurut saya..bahasa “diskusi” yang mewarnai dunia blogger haruslah santun..tokh biar bagaimanapun tulisan-tulisan yang dimuat di blog khan ‘bisa saja’ dijadikan referensi bagi orang lain…”Debat kusir” sama sekali tidak mendatangkan manfaat..membuang energi dan menguras pikiran….jika kita orang yang benar2 efisien terhadap waktu ..maka “debat kusir” sama sekali jauh dari efisien…
    …..Mempertanyakan sesuatu tentu saja tidak masalah yang menjadi masalah adalah tatkala kita tidak bisa menerima ‘jawaban’, saran ataupun masukan dengan lapang dada…..

    wallahualam

    Salam kenal, Pak Bisaku

    Putri

    bisaku:
    “Salut buat pemikiran Putri …
    Masalah menerima dan tidak dari suatu jawaban adalah memang hak dari si pembaca … blog memang intinya kebebasan menyampaikan pendapat, tapi ketika suatu pendapat sudah memasuki area pertentangan tentang perdebatan iman, hal ini akan menghasilkan pertentangan dengan pembaca yang lain. Kalau sudah seperti ini, apa yang terjadi kalau terus dibiarkan penyelesaiannya diberikan kepada seluruh umat pembaca di blog pada belantara internet yang entah berantah ini, yang notabene kadang kala dipenuhi oleh orang yang asbun? Alih-alih mendapatkan sebuah pencerahan, yang didapatkan malah bara api yang kadang tak akan semudah itu dipadamkan.

    Salam kenal juga Putri …
    Duh dipanggil Bapa …😥 padahal umurku masih umur pemuda😉 kebanyakan … “

    Balas

  14. Posted by aris susanto on Januari 28, 2008 at 9:31 pm

    …😐
    Jujur, iya juga sih (sebab blog saya paling kental dengan nuansa begitu, meski masih baru lahir). Namun banyak juga lho blog yang sebetulnya tidak memiliki pretensi ke arah sana. Sebab, banyak diantaranya adalah sebagai apologia. Parokialisme pengunjung blog saja yang membuat semuanya menjadi runyam. Jika bukan karena kedangkalan berpikir, tentu masalah kedelai saja tidak akan diperdebatkan. Toh, persoalan iman itu urgen juga sih untuk setidaknya tidak diperebatkan. Saya memahami dan menyetujui opini anda. Terima kasih…

    bisaku:
    “Baru bisa membalas🙂
    Kadang, fanatisme sempit adalah pemicu peperangan🙂 “

    Balas

  15. Oh, maaf, mas bisaku…habis saya masih belum ‘ngeh’ ama mas bisaku..ok saya panggil mas saja..is it ok ?

    Toh saya juga masih menuntut ilmu di perguruan tinggi…he…he..

    terima kasih atas kunjungannya ke blog saya..

    salam persahabatan

    bisaku:
    “Mas kaka aja deh😉 “

    Balas

  16. […] Wahai Blogger, Jangan Kau Debat Imanku […]

    Balas

  17. Posted by bloodyz on September 4, 2008 at 4:52 pm

    Imanmu Imanmu-Imanku Imanku-Imannya Imannya semuanya milik-NYA!

    bisaku:
    “Pertanggung jawabkan iman kepada TUHAN, bukan kepada manusia…
    Benarkah begitu🙂 “

    Balas

  18. Yah,,, sekarang koq jadi kebalik…
    Tuhan itu kan Maha Kuasa, koq sekarang jadi kebalik,
    malah manusia yang – katanya – mau nolongin Tuhan.

    Jadi, kalau masih ada blogger yang mendebat iman saudaranya,
    saya akan sangat meragukan keMaha Kuasaan Tuhannya…

    Saya jadi ingat cerita wayang. Kalau seorang guru sedang bertarung,
    murid tidak boleh membantu gurunya, itu sama saja artinya murid tersebut meremehkan kemampuan gurunya.
    Walah, koq jadi disamain wayang sih…
    Hehehe,,,

    Balas

  19. Posted by hida on April 30, 2009 at 9:52 am

    ya, semoga iman – iman kalian masih melekat di sanubari … semoga iman kalian tidak dibiarkan lepas, karena tanpa iman … hidup takkan pernah tenang.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: