Cerita Dibalik Si Tukang Parkir

Ini bukan mimpi dan juga bukan dongeng. Ini adalah ceritera dari negeri entah berantah, dari negeri terindah ditengah dunia, tapi miskin penduduknya dan pengemis pula akalnya. Negeri ini juga adalah negeri perandaian, 1001 andai – 1001 misal, negeri dengan kengerian tak terhingga karena kabut yang telah menutup akal sehat para penghuninya.

Cerita berawal dari sumber ceritaku, Pak Amang namanya – bukan nama sebenarnya – yang terkungkung di balik mimpi dan memutuskan hijrah dari desa dikaki gunung, dari antara lembah dan riam, menuju kota pasir[1] tempat peranginan. Keinginan untuk berhasil bak orang lain memuncak keluar diantara persendian tangan yang kekar, memompa darah bening dari pori kulit, membuat kaki tak juga berhenti mencari pijakan. Tak juga di malam ini, disaat angin malam mulai menggigit, serta rintihan air langit yang makin bersikeras lidah pula dengan sang angin, seakan tak ingin kalah membuat Pak Amang menggigil kedinginan.


“Ah, untung ada kopi tiap hari,” Pak Amang mulai bercerita.

Matanya menerawangi jauh telanjangi malam, bibirnya mengkerut menikmati seteguk kopi panas traktiranku yang mungkin saja cangkir kopi terakhirnya; akibat tak mampu pula Pak Amang berbagi duit dengan nasi, ikan kering dan sayur singkah[2] kesukaannya.

“Aku dulu berkebun, kebunku banyak peninggalan Bapaku,” dilanjutkannya acara meneguk kopi dengan nikmat sembari bibirnya memonyong dipinggir cangkir, bak ingin mengemut rasa pahit nikmat kopi diujung lidahnya. “Tapi si Rundrui, ponakan Bapak datang sambil membawa sepeda motor baru waktu itu,” Amang menarik napasnya dalam-dalam. Diletakkannya cangkir kopi tadi ke lantai beralas lampit diantara kami yang sekarang duduk sambil bersandar di dinding pertokoan.

“Karena tertarik dengan cerita Rundrui Bapakpun ikut ke kota, menjual tanah, kebun dan kelotok[3], serta dengan uang tadi Bapak pergi …”

Karena tak ingin memotong maka akupun diam menunggu cerita lanjutannya. Tapi pandangan mata itu tetap kosong …

“Bapa dapat apa kemudian?” aku berharap dapat jawaban. “Apa yang Bapak kejar? Bukankah sudah lengkap kebun dan ladang tuk hidup di kampung.”

“Tapi Bapak tak punya motor bagus seperti punya Rundrui, jaket kulit serta kacamata hitam dan rokok besar ditangan,” Amang menanggapi tajam berusaha membenarkan diri.

Terlihat kini dia gusar, tangan kanannya meraih sekotak rokok murahan seharga 2 ribuan dari kantong bajunya. Tapi tak segera rokok itu dibakarnya dan dihirupnya seakan-akan sebatang rokok tersebut adalah cinta terakhirnya, rasa sayangnya sekaligus puncak kenikmatan dalam hidupnya yang sepi.

“Tak juga Bapa bakal mendapat sandal gunung kulitnya serta baju setannya,” kali ini Pak Amang menurunkan nada suaranya. “Padahal Melahae sudah menanti Bapak disana, tentunya menanti Bapa datang dengan motor bagus, jaket kulit serta kacamata dan rokok besar ditangan seperti yang pernah Rundrui tunjukkan ke orang kampung di tempat Bapak,” Amang merunduk.

“Lalu uang yang Bapa bawa, bukankah banyak dan cukup untuk hidup di kota dan memulai usaha,” aku penasaran.

“Semua uang waktu itu kutitipkan ke Rundrui, katanya dia punya cara biar uang itu bisa berbunga seperti bunga pinjaman Pak Anang, orang bank di kampung kami,” diam sebentar. “Tapi ternyata uang itu dibawa lari olehnya ke Malaysia.”

Keningku berkerut, “Malaysia Pak?”

“Iya, uang Bapak dipakai olehnya untuk membayar biaya keberangkatan ke Malaysia. Ia jadi TKI disana,” ujarnya sambil menatap aku pedih.

“Berarti bisa dong nantinya dia mengembalikan uang Bapak,” pertanyaan yang bodoh bila melihat matanya yang sayu.

“Dia tertangkap dalam operasi pendatang gelap. Sedang Bapak disini? Malah terkungkung, kehabisan duit dan terpaksa menjadi penunggu motor dan mobil.”

Aku menarik napas panjang. “Paling tidak Pak Amang mendapatkan salah satu impiannya, mendapatkan motor – banyak lagi. Walau itu hanya sementara saat dia menjadi penjaganya!” tapi pernyataan itu hanya kusimpan dalam hati. “Tidak berpikir pulang Pak?”

Dia diam tak menjawab dan akupun dapat memperkirakan apa jawabannya.

Kemudian kepulan rokok mulai mengepul bak kereta api uap dengan bau tembakau murahan yang menyengat. Dan malampun semakin larut dengan aroma lembab menusuk dari aspal yang basah, seperti kopi dan aromanya yang kuat bercampur dengan bau rokok. Kesemuanya itu lalu tersaring masuk keperut dan akhirnya menjadi tai – tak berguna dan sia-sia.

Inilah cerita tentang dunia entah berantah, dunia para pengkhayal kelas tinggi yang berharap menjadi raja dalam satu malam. Inilah dunia para pengemis dan pencuri ….

Referensi:

[1] kotaku juga dapat julukan kota pasir
[2] sayur yang terbuat dari isi rotan
[3] perahu yang diberi mesin tempel

4 responses to this post.

  1. Yup..
    berbagai alasan menjadi pembenaran untuk hijrah ke kota
    dan tukang parkir, adalah sebuah pelajaran lain,
    hanyalah penjaga, bukan pemilik meski mobil dan motor tak akan protes😀

    bisaku:
    “Paling gak dia bisa merasakan sensasi menjaga mobil dan motor yang mungkin seperti dimilikinya sendiri🙂
    Kasian bapak itu, sampai seekarang aku masih berpikir makan apa dia saat ini😥 …. “

    Balas

  2. salam kenal,,saya blog spesial tukeran link,,tukeran link denganku ya,,kunjungi

    Balas

  3. numpang muncul gan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: