Apakah Anda Berkarakter?

Seseorang yang memiliki karakter akan melihat dengan penuh kekuatiran berbagai fenomena yang terjadi disekelilingnya. Kegilaan seksual, perceraian, korupsi, semakin maraknya klinik untuk aborsi, atau segala hal yang berkaitan dengan turunnya nilai-nilai standar moralitas pada masyarakat dewasa ini. Namun bukan hanya moralitas, nilai-nilai kedisiplinan, keberanian serta keinginan untuk berubah dan bertransformasi menuju kepada keadaan yang lebih baik, tertutup dengan banyaknya halangan yang berasal dari aturan, oknum serta berbagai pemikiran yang dijadikan semacam kesepakatan umum yang seakan menjadikan mereka adalah orang-orang yang seharusnya berubah.

Untuk mencari tahu tentang karakter, sebuah pertanyaan bisa dilontarkan: “Saat Anda dihadapkan kepada berbagai kenyataan yang menyudutkan, apakah Anda akan terus berpegang pada prinsip moralitas, keberanian, dan kebenaran yang hakiki?” Sehingga kita bisa melihat bahwa karakter haruslah berbentuk sebuah keputusan, bukan konsep. Karakter adalah sebuah buah pemikirin tanpa henti tentang konsekuensi dari keputusan yang akan diambil, berdasarkan kebenaran hakiki yang berlaku sebagai seorang manusia yang memiliki kewajiban dalam masyarakat dunia yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa karakter adalah siapa adanya diri kita dihadapan sang pencipta.

Karakter akan hilang saat kita melakukan berbagai kebaikan, tapi menyangkal kebaikan itu dengan tindakan lain dibelakangnya yang bertentangan dengan nilai kebaikan tadi. Sehingga karakter tidak terkait dengan reputasi, tidak terkait pula dengan prestasi, serta tidak terkait dengan pandangan umum manusia terhadap Anda. Karakter adalah sebuah bentuk tindakan pertanggung jawaban kita terhadap Tuhan.

Karena prinsip pertanggungjawaban tersebutlah maka semua buah dari perbuatan yang berkarakter, biasanya tak dapat diterima menjadi sebuah pandangan umum yang berlaku di dalam masyarakat yang sakit serta penuh dengan kemunafikan, bahkan dalam masyarakat yang menjungjung tinggi moralitas yang semu.

Bentuk dari karakter bisa terlihat dari tindakan, apakah Anda berani untuk berteguh dalam prinsip dan keberanian atas segala pertanyaan yang berlaku umum pada masyarakat sekitar Anda. Contohnya : apakah kita akan terus mempertahankan kesucian seksual disaat semua orang menyatakan bahwa kesucian seksual hanyalah sebuah konsep semu tentang hubungan diantara manusia, apakah kita akan terus bertahan tidak mengambil apa yang bukan menjadi hak kita saat sebagian orang sekitar kita melakukannya, apakah kita akan terus bertahan dalam kedisiplinan kita dalam menjaga hubungan dengan anak-anak kita disaat kebutuhan karier terus menghantui kita tanpa henti. Atau yang paling mengena, apakah kita siap untuk menjadi pelayan bagi orang lain tanpa harus memikirkan apa yang akan kita dapatkan dari tindakan yang kita lakukan tersebut, atau dalam hal yang paling sederhana;haruskan kita ikut pulang sebentar pada jam kerja karena teman-teman lainnya melakukan hal yang sama.

Karakter terbentuk bukan pada satu atau dua hari, atau pada satu atau dua tahun. Tapi karakter adalah proses yang lama dan berliku sehingga tidak banyak orang memilikinya. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membentuk karakter bisa dilakukan dengan melakukan perubahan peraturan yang kontra produktif, pendisiplinan diri, hukum yang dijalankan dengan semestinya, kebijakan yang berpihak pada kebenaran, serta yang paling penting adalah pendidikan.

Majulah INDONESIA !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: