Sama Memabukkan Layaknya “Caffeine”

Hari ini masih 3 hari lagi sebelum mengembalikan novel karya Scott Turrow yang tebal, bercerita tentang kehidupan seorang pengacara bernama Stern dengan lika-liku serta intrik yang memukau. Ingin kuakui, bahwa ceritanya yang vulgar dan sedikit banyak bercerita tentang masalah cinta, perselingkuhan dan tentu saja, bumbu dunia yang tidak pernah selesai dibicarakan yaitu seks serta pasangannya yang pas, hukum. Pada saat seperti ini, sejenak memang aku bisa melepaskan bayang kesendirian yang menimpaku dengan berat, seberat tubuh Julita saat menindih tubuhku dan menari diatasnya. Diantara kedua ini, kesendirian dan Julita, Julita adalah hal yang sangat aku sukai dan kesendirian adalah hal yang sebaliknya. Tapi sebenarnya jauh dalam hatiku, Julita adalah hal yang selalu menjadi bayangan kelam dalam kehidupan percintaanku.

Aku teringat wajah itu, bulat dengan kulit sawo matang serta hidung yang mancung dan kecil. Diimbangi dengan bibir yang lebar tapi kecil dan menurutku sensual berwarna kemerahan. Rambutnya dipotong pendek sebahu dan sungguh membuatku tidak dapat melepaskan pandanganku darinya, walaupun pada saat yang bersamaan tampil sosok gadis jelita dilayar kaca. Tentu saja hal tersebut lebih dikarenakan dirinya yang begitu nyata. Kalau aku ingin kuceritakan tentang tubuhnya? Ah, mungkin tak seindah yang aku atau mayoritas para lelaki bayangkan, yang tentu saja pernah menjadi bagian dari hidupku atau mungkin telah menjadi sebuah obsesi dari egoku sebagai seorang lelaki.

Pinggul yang besar, walau diimbangi menurutku dengan betis yang indah, tetapi keatas kau akan menemukan sedikit lemak dibagian perutnya. Keatas lagi kau akan menemukan tonjolan indah payudara yang menurutku akan membuatmu memikirkannya selama hidupmu. Tapi dirimu tidak akan mengira bahwa tingginya hanya 150an atau lebih sedikit tentunya, karena ini adalah sebuah pengalaman aneh bagiku, sebuah sensasi aneh yang sebenarnya tidak aku mengerti. Bahwa aku tidak pernah sama sekali memikirkan mengenai hal tersebut, mengenai tubuhnya, atau hal yang berkaitan dengan sensualitasnya. Kecuali disaat aku sedang horny dengan Julita tentunya.

Dan sekali-kali semua itu bukan menjadi suatu hal yang membuat aku mengingatnya, menyimpannya didalam bilik rahasia hatiku, sekali-kali bukan. Hal lainlah yang aku dapatkan dari dirinya, hal yang jarang aku dapati dari para wanita yang selama ini pernah singgah lekat dihatiku. Sikapnya yang manja agak kekanakan diberengi dengan tawa yang tidak dibuat-buat serta perkataan dan ungkapan yang ceplas ceplos dari mulutnya itulah, yang membuat aku seakan terpana, lalu terbuai dan tanpa sadar mulai masuk dalam perangkap maut yang telah lama menjadi tempat manusia untuk menentukan pilihan: untuk maju dan menerima hukuman, atau mundur dan menemukan pula hukuman lainnya. Perangkap itu dinamakan kerinduan, kedua hukuman itu adalah rasa sayang dan kebencian tak berujung.

Pada saat ini, tepatnya malam ini, aku dicekam rasa kebimbangan. Disisi lain dari dalam hatiku, aku telah memasukkan kaki kananku untuk mengambil langkah kedepan, tapi pada sisi yang lain, pada bagian kaki kiriku aku seakan ingin membawa badanku menuju kearah belakang. Berbagai fakta dan pemikiran dari otak, hati, serta melahirkan perasaan yang bercampur aduk dan aku sadari mulai memenuhi segala hal yang berkaitan dalam hidupku, lalu tanpa sadar telah meracuni sistem saraf di bagian alam bawah sadarku. Hal yang tentunya ikut pula menghilangkan sifat objektif dan mengatasnamakan nalar sehat yang selama ini telah menjadi senjata utamaku dalam melangkah.

Tak perlu lama memang untuk mengetahui bahwa kini aku sedang dipenuhi obsesi yang sebenarnya bersumber dari ketidaksiapan hatiku untuk melangkah lebih jauh, atau mungkin ini dikarenakan keragu-raguanku sendiri. Aku memang telah banyak pengalaman dalam hal ini, tapi seperti kata beberapa bapa ahli filsafat yang sering mengatakan hal yang tidak bisa cepat dicerna mereka selalu mengatakan : “semakin dalam kau gali perasaan, semakin sadar bahwa kau sebenarnya tidak pernah mengerti apa yang kau cari, selain munculnya 1001 kemungkinan pikiran tak logis tampil dan memiliki potensi besar untuk menghancurkan proses penggalianmu”.

Pada proses pendalaman perasaan, 1000 masalah yang aku hadapi adalah perasaan cemburu dan 1 masalah satunya yang tampil adalah kepercayaan pada insting dan perasaanku sendiri.

Umurnya memang berpaut jauh, selisih mungkin 6 tahun lebih daripada aku. Hal ini memberikan kesan bahwa aku yang telah mulai matang dan menginjak fase pencarian kematangan bertemu dengan individu dengan fase pemberontakan, tidak ingin terikat dan penuh dengan gejolak dari insting liar seorang wanita muda, seorang gadis mungkin, yang baru saja mengenal dunia lebih luas daripada tempatnya dahulu. Celakanya ini memberikan hal yang negatif bagiku, aku menjadi begitu posesif, begitu tidak percaya diri, menjadi begitu bodoh dan terperangkap dalam perangkap perasaan yang sebenarnya ingin kuhamparkan untuknya, sebagai suatu arena testing tentang teori dan kalkulasi hatiku. Tapi aku salah apabila mengatakan bahwa aku berhasil, karena sebaliknya, aku gagal dan mulai merasa frustasi serta ingin mengakhirinya secepat aku bisa.

Pertama kali aku bertemu dengannya saat aku menuju rumahnya untuk meminta dengan polos agar diantar ketempat kebun buah durian yang mengagumkan, yang kubayangkan akan penuh dengan petualangan. Kemudian aku melihat dirinya yang masih kecil, tampak ingin tahu dan penuh dengan rasa penasaran melihat kepadaku, kecil, begitu kekanakan dan begitu naif. Walau kemudian yang terjadi adalah kejatuhan harga diriku karena hampir tidak mampu mengejar seorang gadis kecil lainnya, kakaknya, untuk menyelusuri jalan setapak yang menaik dan tiba-tiba menurun dibalik rimbunan pohon karet, kasturi, nanakan, serta pohon durian yang telah menjadi besar bak raksasa hijau ditengah hutan.
Hingga kemudian kepalaku beranjak kepada kilasan yang lain, saat dia diantarkan oleh ibunya yang tak lain merupakan bibiku agar mengikuti aku pergi ke kota yang sekarang aku tinggali. Dalam perjalanan aku tidak pernah menyadari bahwa ini merupakan awal, sebuah awal yang akan membawa perubahan dalam caraku memandang para wanita. Aku saat itu begitu naif, sekarang tentunya aku harap akan selallu demikian, begitu egois dan teguh pada pendirianku bahwa keluarga adalah lingkungan terlarang dalam proses pencarian tempatmu untuk mendapatkan tempat berlabuh dalam mengarungi dunia ini.
Singkat kata, aku menemukan pada dirinya apa yang aku cari dalam kesendirianku, dalam kehidupanku yang baru beberapa bulan dilingkungan kota yang baru, dalam semua hal yang membuatku mulai mengerti bahwa perasaan bingung adalah senjata yang ampuh untuk menghancurkan tembok kecongkakan hati. Aku harap para ahli filsafat mencatat hal ini. Tawanya yang aku senangi, renyah dan sedikit nakal. Olah tubuhnya yang membuat jantungku sering kali berdesir keras, atau kemanjaan yang mungkin sebenarnya dia tunjukkan kepadaku karena menganggap aku adalah seorang baru dalam kehidupannya berkeluarga, diantara keluarga besar kami yang sangat besar.

Hingga kemudian perasaan kekeluargaan yang ada mulai aku jalani menjadi perasaan yang dilandasi ketidakpastian, aku mulai merasakan perasaan yang salah, perasaan yang seharusnya aku rasakan pada seorang kekasihku saat aku melihat dirinya dipeluk oleh individu yang berlainan jenis, berjenis kelamin sama denganku, didepan mataku; walaukun aku telah melakukan hal yang sama. Aku tahu dan mulai merasakan ini sebagai sebuah kesalahan besar, kesalahan yang tidak tahu akan menjadi apa, kecemburuan yang sepertinya tidak mendasar, karena dikarenakan rasa sayangku yang terlalu besar. Atau mungkinkah ini yang dinamakan oleh semua orang sebagai perasaan suka? perasaan yang mulai menjurus kepada apa yang dinamakan sebagai amor, ai, love or cinta?

Sayangnya aku sampai sekarang masih belum bisa menjabarkannya secara jelas, karena masih terkungkungnya waktuku, masih belum dapatnya aku menjelaskan secara nalar kepada diriku, bahwa aku mulai jatuh cinta lagi, mulai menyukai perempuan lagi, atau ini bukan hal yang tersebut semua itu sama sekali, dalam artian ini adalah implikasi dari kesendirian yang aku alami.

Entahlah, mungkin akan terjawab nanti, saat aku bisa berbicara dengannya dari hati ke hati – atau disaat aku menghilangkan kesepian ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: