Cinta Tak Berbalas!

Aku selalu tersenyum dalam hati saat melihat wajahnya yang manis. Apalagi saat aku mengingat masa kecilku bersamanya, saat berlarian diantara bangku gereja yang sangat banyak dan berbaris didalam ruangan yang sangat luas. Demikian pula saat aku mendengar dia tertawa dengan renyahnya, seakan ingin mengatakan kepadaku bahwa setelah ini dan hari esok pasti akan sama atau bahkan lebih cerah dibandingkan saat ini. Adalah kenangan tentang sebuah hubungan yang tidak pernah diakhiri diantara kami berdua, walupun disaat itu kami masih terlalu kecil untuk dapat menyatakan pada diri sendiri apa itu cinta dan sayang, apa itu perhatian dan kasih, selain bahwa aku sangat ingin berjumpa dengan dirinya, sama halnya dirinya yang selalu diam menunggu setiap sore didepan rumahku untuk mengajakku bermain dilapangan bermain yang luas dikomplek perumahan kami yang bersahaja.

Rambutnya kini lurus panjang sebahu, dengan hidung yang mancung diimbangi oleh bibirnya yang agak maju tapi manis. Aku dulu sering mengejeknya dengan perumpaan burung betet berbibir kadal yang segera akan dibalasnya dengan teriakan kekesalan sembari memukul bahuku yang sering menjadi tempat bersandar baginya. Matanya sendiri berbola mata hitam kecil dengan bulunya yang melentik indah, serta alisnya yang tipis mengikuti alur dahinya yang lebar. Lehernya panjang dan kurus, mengikuti tubuhnya yang menurut perkiraanku lebih kurus dibanding yang aku bayangkan saat melihat ibuku selesai melahirkan adik ketigaku. Entah mengapa ada getar dihati saat hari ini untuk pertama kalinya sejak enam tahun kepergianku untuk sekolah diseberang pulau, aku kembali duduk dikursi yang sering kutempati di gereja tempat kami sering bermain berdua dahulu.

Kali ini dia duduk dimuka dideretan kursi para singer, dengan menggunakan baju bercorak bunga matahari berwarna kuning kemerahan, serta dengan gambar latar sinterklas yang sedang riang membawa bungkusan besar berwarna merah menyala. Aku lalu berusaha menangkap gerakan bibirnya, serta tubuhnya yang nampak bersemangat saat menyanyikan bait kedua dari lagu “bersukacitalah dunia”. Cantik sekali pikirku, sekali itu aku benar-benar berdoa bahwa dia tidak akan melihat kearahku, sehingga aku dengan bebas bisa menangkap gerak tubuhnya yang tidak akan canggung, dibanding saat dia tahu aku mengawasinya dulu saat dia menari pada acara natal sekolah minggu di gereja ini, belasan tahun yang lalu.

Tapi kemudian kenyataan tampil dimataku, kenyataan yang mungkin tidak akan pernah aku inginkan dalam pengembaraanku. Sebuah kenyataan yang membuyarkan semua lamunan dan kenangan indah tentang masa yang telah kami berdua lalui bersama. Kenyataan yang mengatakan pada diriku bahwa dirinya tidak akan bisa aku miliki lagi, tidak akan bisa aku dekati lagi seperti dahulu, tidak akan pernah sebebas dahulu, tidak akan pernah seceria dahulu lagi. Kenyataan yang kemudian membawaku untuk berlalu pergi, keluar dari gedung gereja tersebut dibawah tatapan jemaat yang seakan memvonisku sebagai seorang murtad tak berpendidikan.

Tapi aku tidak perduli dan berlalu pergi sembari berkata pada diriku untuk kesekian kalinya, bahwa aku tidak akan pernah menjejakkan kakiku lagi disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: