Kapan …?

Kasih,
Angin sudah berhenti bertiup
Awan sudah berhenti berarak
Dedaunan sudah berhenti berjatuhan …
lalu kapankah kita kan beranjak?
Bersama mengarungi sungai dan jeram,
menikmati panggangan ikan dan nikmatnya hasil hutan
Menikmati tanpa harus menyakiti,
bercinta tanpa harus merasa berdosa …

Saat dinginnya malam mulai menusuk karena pergantian yang terjadi disaat menjelang subuh hari, suara kodok yang terdengar semakin riuh pun mulai berkurang. Rintik hujan, seakan ingin menambahkan lagi rasa nyeri tulang ini dikarenakan tersengat sensasi dingin tambahan dari lantai tempat saat ini berbaring.

Batuk yang begitu nyaring terdengar lagi dari arah dipan dimana sang Ibu serta anaknya yang kecil berusia 15 bulanan sedang tertidur nyaman. Sang anak, yang nampak mulai mengurus tiba-tiba terduduk spontan, tangispun terdengar memecah sunyi. Bunyi kodok, entah merupakan sebuah kebetulan atau alam yang ingin ikut bersuara ditengah keprihatinan, terdengar pula menyahuti. Riuh rendahlah kini hari yang seharusnya bisa dilalui dengan nyaman. Sudah ke tiga kalinya malam itu, sang Anak terbangun, membangunkan ibunya, dan membangunkan sang Bapak yang sedang tertidur disamping dipan, diatas lantai putih dari tegel murahan yang dingin.

Bapak pun sigap duduk, sang Ibu dengan sabar memeluk sang Anak. Tapi dalam hati sang Bapak seperti tiada berdaya, disaat yang sama, Ibu mencoba memeluk dengan pelan, menaruh tubuh si kecil dengan penuh kasih sayang di rangkulannya, memberikan kontak langsung dari dadanya yang tak tertutup apa-apa langsung kepada si kecil, mencoba melakukan upaya agar panas dari tubuh sang Ibu bisa menstabilkan perasaan si kecil, sang Anak yang sedang sakit …

terus .. hingga si anak tertidur, terus .. hingga pagi menjelang …

Sang Bapak, sang Ibu, sang Anak …

Mencoba lagi peruntungan dikeesokan harinya …

Sharing Hubungan Jarak Jauh

Baiklah, sekarang Anda memutuskan untuk melaksanakan hubungan percintaan jarak jauh dengan pacar Anda jauh di seberang sana, entah itu di seberang lautan, seberang pulau, seberang sungai, atau seperti saya yang hanya kota di seberang. Lalu Anda juga berpikir untuk mencari tahu bagaimana caranya Anda mendapatkan kekuatan untuk melaksanakan hubugan tersebut? Ah, saya memang masih amatiran kalau mengatakan saya sudah berhasil dalam Hubungan Cinta Jarak Jauh yang saya lakukan saat ini; tapi sharing berbagai hal yang saya pikirkan dan telah saya dan pasangan lakukan mungkin bisa memberikan sedikit pemikiran bagi Anda untuk melangkah lebih jauh.

Tapi ini bukan tentang tips untuk mempertahankan hubungan jarak jauh yang bisa Anda lakukan, ini adalah sharing pengalaman yang telah saya dapat, sehingga Anda bisa memutuskan tentang langkah lebih lanjut; apakah permintaan si dia untuk berhubungan akan Anda tolak, Anda pikirkan lebih dulu, atau Anda ambil keputusan untuk menjalankannya.

Akan tetapi bila Anda sudah menjalankan hubungan tersebut? Kiranya sharing saya bisa memberikan khasanah yang lain, pemikiran yang lain, ide yang lain untuk sama-sama saling membangun, syukur-syukur kalau Anda bisa berpikiran untuk sharing dengan memberikan komentar pada bagian bawah tulisan ini.

Saya rasa cukup pengantarnya, sekarang sharing yang akan berupa pendapat saya tentang Hubungan Cinta Jarak Jauh ini akan saya ~ terlalu putar-putar yah:mrgreen: ~mulai …

Tapi ingat, bacalah hingga selesai atau tidak sama sekali!

Lanjutkan membaca

26

Tadi malam kasih, baru saja kau berikan kecupan manis melalui pesan singkat ditengah malam;

membangunkan diriku di tengah malam buta, bersua melalui karakter gaib yang kita kirimkan lewat udara karena takut papahmu terbangun di tengah malam buta,

hanya untuk mengungkapkan sebuah kata termanis yang telah lama tidak aku dengarkan dari para kekasih ku yang dulu, dari sejuta impian yang telah lama aku buang bersama berlalunya waktu, yang ku buang di tengah semak-semak berduri, tentang perasaan kebahagiaan bahwa …

dirimu dan diriku berbahagia masih bisa bersama di malam buta pada pergantian hari, mengucapkan kata selamat untuk cerita hidupku yang kini menginjak hari pertama dari total 26 tahun masa kehidupanku di dunia, dan 8 bulan lebih 2 hari dari masa percintaan kita yang telah dipenuhi oleh guncangan, ratapan, kesedihan dan tak terhitung lagi banyak jumlahnya; dan juga tak kalah banyak jumlahnya, tentang cerita kebahagiaan dan pengharapan yang telah kita rasakan silih berganti …

Aku Pun Tidak Ingin Begini

Usiaku sekarang kurang lebih 26 tahun dengan 1 anak, seorang gadis cantik yang selalu kupanggil angel karena bagiku dia memang seorang malaikat kecil yang turun dari Surga, satu-satunya penghibur didalam kesusahanku yang demikian panjangnya.

Tidak lama terlintas dalam ingatan saat aku pertama kali disumpah janji didepan Gereja di kampung halamanku, diantara tatapan haru dan bangga sekaligus iri para tetangga dan teman-teman serta keluarga di kampungku karena berhasil mendapatkan seorang lelaki yang demikian membanggakannya. Tampan, mapan dan sepatutnya dipuja oleh banyak wanita, walau untuk bisa langsung hidup bersama kami berdua harus terlebih dahulu berpisah tempat tinggal selama kurang lebih 3 tahun karena kewajiban di tempat bekerja suamiku.

Tanpa kusadari mataku kini sembab, bulir-bulir airmata pun turun diantara sela-sela sudut mataku tanpa bisa dihalangi lagi.

Rumahku Dan My Honey Nanti

Di pertengahan tahun diri ini sudah pasang aksi dengan menggelontorkan uang muka untuk beli rumah, tepatnya menghabiskan semua uang yang ada di tabungan sejak jaman mahasiswa pas masih proyekan sampe jadi orang gila di bagian pemerintahan sekarang­čÖé ..

Moga dengan ini my honey jadi lebih yakin untuk terus bersamaku seperti di waktu kami bertemu untuk terakhir kali, bulan kemarin. Masih ingat bayangan ini bak film di kepalaku, bagaimana kami berdua saling bergandengan tangan melihat lokasi yang pada waktu itu masih berupa padang ilalang yang sudah diberi patok sampe beberapa bulan kemudian ketika rumah tersebut sudah ada dindingnya, lalu bertemu dengan tetangga belakang rumah dan bercerita panjang lebar dari hati ke hati tentang masa depan kami berdua di kota ini.

Karena itu diriku melalui blog ini mau sedikit berbagi kebahagiaan, disaat minggu terakhir kemarin diriku kembali melihat bentuknya yang kini sudah ada atap, dinding yang sudah di plaster dan plafon rumahnya tentu saja.

Lucunya, bagiku yang masih belum menjadi siapa-siapa ini, pengalaman tersebut benar-benar seperti pengalaman seorang Bapak yang melihat bagaimana membuat anak di mamanya, anaknya tumbuh dari onggakan daging di perut mamanya, lahir, keluar, dicuci pantatnya, lalu mulai menangis manja, minta ini itu dan akhirnya remaja, pacaran lalu mulai berontak, sampai akhirnya memilih pasangan hidupnya, kemudian menikah dan mati …

Walau kuakui masih ada hal yang mengganjal, pertanyaan tentang kapankah diriku bisa menempati rumah ini nantinya berdua bersama dirinya, my honey yang selalu kucintai.

Bisakah di 2 bulan kedepan? Atau tahun depan? Atau tahun depannya lagi? Atau disaat diriku mulai menangisi kesendirian dan akhirnya kembali mencari tambatan hati yang lain …

NB: Silahkan lihat perkembangan rumahku di halaman Rumahku Pelangiku

Ditulis disaat ambang-ambang bunga KPR yang mencekik gara-gara krisis Global.

Ambil Judul Tulisan Teman Dengan Google Reader

Halah … panjang banget judulnya­čść

Persepsi saya saat menulis ini adalah:

  1. Anda sudah bisa mengoperasikan komputer *halah*
  2. Anda sudah bisa menggunakan Google Reader, menambahkan feed RSS dari teman dan memonitornya
  3. Anda mengumpulkan kumpulan bacaan tersebut ke dalam folder-folder di Google Reader

Lalu permasalahannya sekarang adalah agar bisa menampilkan Judul Tulisan Teman yang sudah Anda monitor RSS nya menggunakan Google Reader. Perhatikan contohnya di bagian kiri halaman blog saya ini, akan Anda lihat daftar tulisan terbaru dari blog yang sering saya baca menggunakan Google Reader pada judul widgetnya yaitu “Tulisan Teman”

Pro Siti Jenang, beliau bilangnya ini atom feed, yang saya kira beliau sudah mau berbalik arah menjadi ahli nuklir setelah bosan dengan filsafat Jawa:mrgreen:

Sebenarnya widget ini menggunakan RSS Reader biasa saja, tetapi RSS Feed yang diambil menggunakan bantuan Google Reader sebagai pengumpul RSS Feed tersebut *halah­čść *. Untuk bisa melakukannya kita perlu tahu USER ID kita di Google Reader dengan cara: silahkan masuk ke Google Reader dengan login Anda tentunya lalu copy dan paste kode dibawah ini di Address Bar (tempat kita mengetikkan alamat WEB) pada halaman web yang telah membuka Google Reader untuk login Anda.

javascript:prompt(“User ID”, _USER_ID);void(0);

Nanti akan muncul pesan yang berisi USER ID Anda.

Kemudian tambahkan widget untuk RSS Feed pada halaman blog Anda dan masukkan alamat untuk umpan RSS tersebut menggunakan alamat seperti dibawah ini …

http://www.google.com/reader/public/atom/user/USER_ID_ANDA/label/LABEL_ANDA

Ubah USER_ID_ANDA dengan USER ID yang didapat dan LABEL_ANDA dengan label yang Anda jadikan bacaan untuk blog yang sering Anda baca. Dalam hal ini, USER ID saya adalah 03074790740021938010 dan saya menaruh bacaan blog yang sering saya baca di folder bernama bacaan, maka alamat umpan RSS tersebut adalah:

http://www.google.com/reader/public/atom/user/03074790740021938010/label/bacaan

Lalu simpan perubahan dan lihat hasilnya­čÖé

Referensi: http://googlesystem.blogspot.com/2008/06/search-read-items-in-google-reader.html