Kali kesekian aku beranjak dari dudukku, akupun kemudian memandang kepada barisan pepohonan yang berbaris rapi di pinggir pantai yang dibatasi oleh putih agak kehitaman warna pasirnya, yang beradu kemudian dengan air laut yang perlahan semakin berwarna biru hingga ke baris cakrawala yang sepertinya, apabila kita jelajahi jauh ke depan maka kita kan bertemu dengan atap langit yang kini bertoreh berwarna merah agak keputihan.
Aih … teriakku dalam hati. Kapan lagi aku bisa menikmati saat indah seperti ini? Saat mataku berpaling ke arah dirimu yang masih tergolek lemah di atas kasur tebal dengan selimut putih tipis yang membalut indahnya tubuhmu yang telah kunikmati tadi malam. Sekejap teriakan dan hembusan nafasmu di telingaku, usapan tanganmu dan hangatnya peluhmu kembali kurasakan di antara pori-pori leherku, membuat hatiku kembali memanas dan jantungku berdegup sedemikian kencangnya.
Tapi saat ini aku tahu kau tidak berdaya, tepatnya akupun demikian.
Kita telah menantang sedemikian kuat pemikiran dunia tentang percintaan, tapi dengan salah kita tantang setan dan iblis serta dunia, dengan angkuh kita katakan bahwa percintaan ini tiada kan menyakitkan. Sekejab kita berkata-kata mengatakan kepada dunia bahwa kita adalah pasangan paling mulia, tubuh kita adalah yang tersuci, hati kita adalah yang paling putih, mata kita tak kan terpasung oleh pandangan sekejab dari hamparan mutiara putih dengan bebuluan halus yang menggetarkan. Kita seakan berkata kepada TUHAN sebagai insan paling mulia, anakNYA yang paling bisa di percaya, sebuah hasil tulisan tentang indahnya cinta yang suci yang bertolak belakang dari tabir ketidakberdayaan seorang Raja DAUD akan godaan isteri sang Panglima…
Tapi tidak … Baru sepersekian menit ku peluk dirimu di beranda hotel ini, diantara alunan lagu romantis yang buaikan hati, maka kitapun seakan lupa dengan mata yang menatap seakan tak percaya.
Ah diriku pun makin tiada berdaya kasihku… Aku pun lupa dengan keindahan cinta yang akan kita reguk bila ku mengunggu mu lebih lama lagi, tidak pula kuingat berbagai janji yang dulu kubisikkan ke telinga mu tentang tekadku untuk menjagamu.
Yang ada kemudian hanyalah pelukan sayang, pagutan mesra, desahan napas dan mata yang memandang dalam hingga menusuk hati, jantung yang kemudian lebih keras bekerja memompakan darah yang kurasa begitu panas menjalar di antara nadi-nadi tubuhku, serta insting kebinatanganku yang mulai menguasaiku dan buatku tiada berdaya…
Dan kini disinilah kita kasih, tanpa daya bercinta rusakkan janji, permalukan mahluk sorgawi yang kini diam menutup tirai dan hentikan suara terompet percintaan. Ya, kini bahkan malaikat pun pergi dan iblis yang ku tahu pertamanya diam terpana karena terkagum atas kebijakan kita, hanya tersenyum pahit keluarkan jeritan tak sukanya.
Jawab aku, kini kemanakah kita sayang? Bisikmu tertahankan diantara isak tangismu. Kini kau terbangun, duduk diam kita bersama di sotoh hotel terindah di pinggir pantai pagi ini. Kemanakah kini kita melangkah? Bahkan Iblis telah meninggalkan kita, lalu siapakah yang bisa kita gunakan untuk berpegang?
Kini Hangatmu, mulusnya tubuh berbalut kain putih tipis tak lagi buatku bergetar. Sebaliknya kini ku merasa amarah, tak tertahankan di dalam hati yang buat kepalaku memanas. Aku marah, marah kepadamu dewiku yang tiada hentikan diriku, marah kepada TUHAN yang tidak mencambuk diriku, marah kepada Iblis yang hanya tertawa tertahan …
Aku hanya diam … diam … dan diam tanpa bisa berkata. Sembari menunggu panasnya mentari hangatkan diri, usir angin laut yang perih menusuk pori kulit; dan berharap bahwa kita kan dapatkan solusi, sembari tak lupa berdoa di dalam hati.
* dari mimpi terlaknat tadi malam *

Berlangganan Blog








Posted by sitijenang on September 23, 2008 at 12:36 am
apa yg terjadi biarlah terjadi. mungkin Engkau memang menghendaki. ataukah aku yg salah memahami? *cihuy*
“
bisaku:
“Untung cuma mimpi
Posted by jeng jun on September 23, 2008 at 1:09 pm
Wow…. untung cuman mimpi yang Bung…

Ayo.. bertahan sampai waktunya tiba.. jangan kalah, mari terus berjuang
bisaku:
“Amin … gara-gara ini …
Ah, makasih TUHAN ….”
Posted by sawali tuhusetya on September 23, 2008 at 9:41 pm
konon hidup manusia itu seperti cakra manggilingan, seperti roda yang berputar. kadang di atas kadang di bawah. yang penting bagaimana *waduh kok jadi sok tahu saya, haks* kita menyiasatinya agar ketidakberdayaan itu tak berlangsung lama.
… terlihat dari tulisan2 Bapa …
“
bisaku:
“Iya Pak, memang seperti itu.
Ah, memang Bapa lebih bijaksana daripada saya
Jadi ingat kata Esensi, apa tulisan itu adalah gambaran orangnya yah
Posted by Armand on September 24, 2008 at 6:26 am
Sebuah kontemplasi dari mimpi yang inspiratif, tapi sy koq gak ngerti ya :katro: mode ON, hehe. Soalnya kata-katanya dalem banget. Keren..
“
bisaku:
“Makasih atas pujiannya
Posted by anggavantyo on September 24, 2008 at 6:41 am
untung cuma mimpi..hahahahha..
“
kalo mimpi dapet rumah mau ngga? hahahah
bisaku:
“Kalo dapat rumah itu harusnya gak usah mimipi lagi
Posted by yessymuchtar on September 24, 2008 at 3:47 pm
ahh cuma mimpi ..
ada apa gerangan…
apakah anganmu terlarang?
bisaku:
“Takut, karena hal ini adalah hal yang tabu untuk dilakukan..
Kalau angan sih memang karena manusia biasa, cowo yang biasa & bukan dewa …”
Posted by Daniel Mahendra on September 24, 2008 at 4:28 pm
Ini dunia, bukan surga. Tentu tak ada yang sempurna…
“
bisaku:
“Ah, tapi manusia kadang ingin menciptakan surganya
Posted by mercuryfalling on September 25, 2008 at 8:48 am
udah hampir seminggu ini aku kok mimpi brad pitt mulu ya dooooohh jijay banget (maksudnya brad pitt yg jijay wkekekek)
“
bisaku:
“Halah Jeng … bisa aja … pasti si Brad Pitt tar keinjak kodok betina wakakaka ,,, canda ah
Posted by Anthin on September 25, 2008 at 3:59 pm
Kalo yang ini…kali harus di beri kode BO..biar Anthin ga kesasar…
Anthin kirain cuma latihan cium dengkul
Ga’ mudik, Om?
bisaku:
…
…
“
“Gak juga kale yang mesti BO
Yee … memangnya mau nyiuman dengkul nene
Jangan pake Om ah, kaka aja kan lebih dekat wakakaka,, mo mudik besok nih
Posted by kweklina on September 30, 2008 at 2:45 pm
ha..ha..ha…
Aduh…dunia memang aneh-aneh…hal yang terlarang lebih mudah dilakukan,setelah kejadian baru hadir penyesalan.
Yang aneh untukku,jika menggangap hal itu tak boleh dilakukan,pergi restoran pantai bukan ke hotel tepi pantai…
untung hanya mimpi…
bisaku:
…
“Bukan perginya yang terlarang, tapi kegiatan setelah itu, terlena dan terikut dengan suasananya
Yap, untung itu hanya mimpi …”