Hidup Segan Tuk Mati

Bertautan beberapa bulan sudah kehidupan sebagai perantara ~ diantara manusia dan kekuatan tak terlihat ~ dijalankan melampaui hati yang sebenarnya ingin merasakan rehat sejenak, menikmati hidup diantara rerimbunan bambu yang ditambahi dengan bunyi gemerisik daunnya yang berisik, namun seperti memiliki kemampuan magis untuk meluruhkan hati yang bahkan sudah membatu.

Larutkah aku? Atau sudah matikah hati yang dulu kubangga-banggakan diantara budak nafsu yang tercela, anak dunia yang terlahir dari rahim induk naga, bertakdirkan asa yang menghitam, membatu, membusuk dan tanpa mampu menahan dan merasakan lagi sebuah cinta dari sang Tuhan dan para nabiNya; sehingga kepedihan dari luka yang menganga pada selangkangan durjana ini tidak lagi kuanggap sebagai sebuah dosa yang tercela, tapi hanya sebuah hasil keliaran, goresan tanpa arti dari dedaunan dan duri jalanan, yang tanpa sengaja ku lewati untuk menikmati hari.

Teman… tak kurasa lagi kini sakitnya diri yang ditusuk senjata bernama kata hati, karena ujung-ujung sisi pedang tertajam tersebut kini semakin tumpul dan tiada harapan untuk dapat ku asah lagi.

Dari perjalanan tak sampai …

~ Seperti diceritakan seorang teman. ~

2 Tanggapan to this post.

  1. Nice Blog
    Please visit me Back At http://www.Adminkidnet.blogspot.com

    Balas

  2. semoga bukan seperti yang saya rasakan sekarang ya

    bisaku:
    “Apa yah :-)

    Balas

Tanggapi posting ini